Spread the love

Digitalisasi rumah sakit tidak selesai hanya dengan memasang aplikasi dan meminta tenaga kesehatan menggunakannya. Sistem baru perlu menyesuaikan diri dengan alur kerja, kemampuan pengguna, serta kondisi organisasi tempat teknologi tersebut diterapkan. Persoalan inilah yang menjadi perhatian SIMRS Dinamika melalui penelitian di salah satu rumah sakit daerah di Kabupaten Lamongan.

Kajian tersebut dilakukan oleh tim peneliti Universitas Dinamika bersama James Cook University Singapore dan STIKES Yayasan RS Dr. Soetomo. Penelitian dipimpin Sulistiowati dan Erwin Sutomo dengan melibatkan 90 tenaga kesehatan di RSU dr. Suyudi Paciran. Data responden kemudian dianalisis menggunakan metode statistik PLS-SEM.

Pemilihan rumah sakit daerah sebagai lokasi penelitian memberi konteks penting terhadap pembahasan transformasi digital kesehatan. Setiap fasilitas memiliki sumber daya, kebiasaan kerja, dan tantangan operasional yang berbeda.

Hasil penelitian telah diterbitkan dalam Jurnal Manajemen Kesehatan Yayasan RS. Dr. Soetomo, Volume 12, pada April 2026. Jurnal tersebut terindeks Sinta 2. Temuannya memberikan gambaran mengenai faktor yang mendorong tenaga kesehatan menggunakan Sistem Informasi Manajemen Rumah Sakit dalam lingkungan kerja yang menerapkan pemakaian wajib.

SIMRS Dinamika Membawa Regulasi ke Konteks Rumah Sakit Daerah

Transformasi layanan kesehatan memiliki landasan regulasi yang jelas. Peraturan Menteri Kesehatan Nomor 82 Tahun 2013 mengatur penerapan Sistem Informasi Manajemen Rumah Sakit. Sementara itu, Peraturan Menteri Kesehatan Nomor 24 Tahun 2022 mengatur penyelenggaraan rekam medis elektronik di fasilitas pelayanan kesehatan.

Kehadiran regulasi membuat digitalisasi menjadi kebutuhan operasional, bukan sekadar pilihan tambahan. Namun, aturan belum otomatis menjelaskan bagaimana tenaga kesehatan menerima dan menggunakan sistem dalam pekerjaan sehari-hari. Di sinilah penelitian pada tingkat rumah sakit menjadi penting untuk melihat hubungan antara kebijakan nasional dan kondisi penerapannya di daerah.

Salah satu temuan utama penelitian adalah paradoks kepuasan pengguna. Dalam lingkungan kerja dengan penggunaan sistem yang bersifat wajib, kepuasan pribadi tidak menunjukkan pengaruh signifikan terhadap niat memakai aplikasi. Tenaga kesehatan tetap perlu mengoperasikan sistem karena penggunaannya telah menjadi bagian dari prosedur kerja.

Temuan tersebut bukan berarti pengalaman pengguna dapat diabaikan. Kepuasan masih dapat membantu pengelola mengenali kenyamanan, keluhan, dan hambatan selama penggunaan aplikasi. Namun, hasil survei kepuasan saja belum memberikan gambaran lengkap mengenai alasan sebuah sistem terus digunakan dalam organisasi.

Penelitian SIMRS Dinamika mengidentifikasi norma subjektif sebagai faktor paling dominan. Dorongan dari atasan dan rekan kerja memengaruhi kebiasaan tenaga kesehatan dalam menggunakan sistem digital. Lingkungan profesional membentuk pemahaman bahwa pengoperasian aplikasi merupakan bagian dari tanggung jawab bersama dalam pelayanan.

Faktor berikutnya adalah kemudahan penggunaan. Aplikasi dengan alur yang sederhana dapat membantu tenaga kesehatan menjalankan tugas tanpa terlalu banyak menghadapi kendala teknis. Hal ini relevan bagi rumah sakit daerah yang perlu mengelola teknologi di tengah keterbatasan waktu, tenaga pendamping, maupun sumber daya operasional.

Reputasi profesional juga menjadi bagian dari faktor adopsi. Kemampuan menggunakan sistem digital dapat berhubungan dengan citra positif dokter dan perawat di tempat kerja. Teknologi bukan hanya berfungsi sebagai alat pencatatan, tetapi juga menjadi bagian dari perkembangan kompetensi tenaga kesehatan dalam lingkungan pelayanan yang terus berubah.

Pelajaran Digitalisasi untuk Pemerataan Layanan Kesehatan

Riset SIMRS Dinamika menghadirkan pembelajaran bahwa transformasi digital perlu membaca kondisi rumah sakit secara spesifik. Sistem yang berhasil digunakan di satu tempat belum tentu dapat diterapkan dengan cara serupa di fasilitas lain. Perbedaan infrastruktur, jumlah tenaga kesehatan, dan budaya organisasi dapat memengaruhi proses adaptasi.

Bagi pengelola rumah sakit daerah, perhatian dapat diarahkan pada tiga aspek utama yang muncul dari penelitian. Dukungan atasan perlu terlihat dalam pelaksanaan kerja, penggunaan sistem harus menjadi kebiasaan bersama, dan tampilan aplikasi perlu mudah dipahami. Pendekatan tersebut membantu digitalisasi bergerak dari kewajiban administratif menuju bagian dari aktivitas pelayanan.

Pengembangan aplikasi juga tidak selalu harus dimulai dengan menambah banyak fitur. Fitur yang kompleks dapat kehilangan manfaat apabila tenaga kesehatan kesulitan menemukan fungsi yang dibutuhkan. Penyederhanaan alur, kejelasan menu, dan kesesuaian dengan prosedur kerja justru dapat menjadi perhatian utama dalam perbaikan sistem.

Dalam kaitannya dengan SDG 3 tentang kehidupan sehat dan sejahtera, pengelolaan rekam medis secara digital berpotensi membantu layanan menjadi lebih tertata. Informasi pasien yang dikelola melalui sistem dapat mendukung proses pelayanan, meskipun hasil akhirnya tetap bergantung pada kualitas penerapan dan pengelolaan data di rumah sakit.

Hubungannya dengan SDG 9 terlihat pada pembangunan infrastruktur kesehatan berbasis teknologi. Infrastruktur tersebut tidak hanya mencakup perangkat dan jaringan, tetapi juga aplikasi yang dapat digunakan oleh tenaga medis. Kemudahan penggunaan menjadi bagian penting agar investasi digital benar-benar hadir dalam kegiatan operasional.

Kajian ini juga sejalan dengan Asta Cita keempat mengenai penguatan sumber daya manusia, sains, dan teknologi. Penelitian berbasis data digunakan untuk memahami persoalan pelayanan publik sekaligus membantu tenaga kesehatan beradaptasi dengan perubahan sistem kerja.

Keterkaitannya dengan Asta Cita keenam tampak pada perhatian terhadap pembangunan dari daerah. Studi di RSU dr. Suyudi Paciran menunjukkan bahwa pembahasan transformasi kesehatan tidak harus selalu berpusat pada rumah sakit di kota besar. Pengalaman fasilitas daerah dapat menjadi sumber pembelajaran untuk memperluas pemerataan layanan.

SIMRS Dinamika menempatkan rumah sakit daerah sebagai bagian penting dari perjalanan digitalisasi kesehatan Indonesia. Keberhasilannya tidak hanya bergantung pada regulasi dan perangkat, tetapi juga pada dukungan lingkungan kerja serta kemudahan aplikasi. Dengan memahami kondisi pengguna, transformasi digital dapat dirancang lebih dekat dengan kebutuhan pelayanan sehari-hari.